Mencari kehalalan dalam Berbuat

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 29 Desember 2014

directing and comanding didalam dakwah



BAB I
PENDAHALUAN

A.      Latar Belakang
Dalam penyelenggaraan da’wah, mutlak diperlukan penjalinan hubungan (koordinasi) diantara satu dengan yang lain. Dengan adanya penjalinan hubungan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap para pelaksana, baik antara mereka yang berada dalam satu kesatuan, maupun dengan kesatuan yang lainnya, dapatlah dihindarkan kesimpang siuran, kekacauan, kekembaran, kekosongan dan sebagainya. Kebijakan Nabi Muhammad SAW bahwa dalam setiap menghadapi masalah beliau senantiasa mengadakan permusyawaratan dengan para sahabatnya, disamping hal tersebut menunjukkan bahwa musyawarah adalah merupakan prinsip ajaran islam yang penting, yang juga sebagai sarana penjalinan hubungan antara Nabi SAW dengan para sahabatnya satu sama lain. Sehingga terpadulah potensi mereka dalam satu kesatuan dan kekuatan yang sinkron.
Pentingnya arti pemberian motivasi, pembimbingan dan koordinasi, dalam rangka proses penyelenggaraan da’wah. Selain itu diperlukan pula adanya saling pengertian diantara para pelaksana. Saling pengertian ini dapat diwujudkan, bilamana masing-masing mereka secara timbal balik senantiasa menyampaikan informasi, ide, keinginan dan sebagainya.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa Yang Dimaksud Dengan Directing  (Pengarahan) ?
2.      Apa Tujuan Directing (Pengarahan) Didalam Dakwah ?
3.      Apa Fungsi Komunikasi Didalam Pengarahan ?
4.      Apa Pemberian Perintah (commanding) ?
C.      Tujuan Masalah
Memberikan pemahaman terhadap pengarahan atau perintah (directing or commanding) didalam dakwah


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pengarahan (Directing)
Pengarahan adalah penjelasan, petunjuk, serta pertimbangan dan bimbingan terdapat para petugas yang terlibat, baik secara structural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar, dengan pengarahan staff yang telah diangkat dan dipercayakan melaksanakan tugas di bidangnya masing-masing tidak menyimpang dari garis program yang telah ditentukan.
Dalam pelaksanaannya pengarahan ini seringkali dilakukan bersamaan dengan controlling sambil mengawasi, manajer sering kali memberi petunjuk atau bimbingan bagaimana seharusnya pekerjaan dikerjakan.
Jika pengarahan yang disampaikan manajer sesuai dengan kemauan dan kemampuan dari staf, maka staf pun akan termotivasi untuk memberdayakan potensinya dalam melaksanakan kegiatannya.
George R Terry seorang tokoh manajemen menyebut pengarahan dengan istilah Actuating. Menurutnya Actuating sendiri merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran organisasi (kelompok) dan sasaran anggota-anggota organisasi (kelompok) tersebut.[1]

B.       Prinsip Pengarahan
Pengarahan merupakan aspek hubungan antar manusiawi dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaga kerja efektif serta efesien untuk mencapai tujuan.[2]
Dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia, juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Manusia dengan berbagai tingkah laku yang berbeda-beda, memiliki pandangan serta pola hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu, pengarahan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:
1.          Prinsip mengarah pada tujuan
Tujuan pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap usaha mencapai tujuan.
2.         Prinsip keharmonisan dengan tujuan
Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkin tidak mungkin sama dengan tujuan perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian dengan harapan tidak terjadi penyimpangan yang terlalu besar dan kebutuhan mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan perusahaan.
3. Prinsip kesatuan komando
Prinsip kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung jawab para bawahan.
C.      Cara Cara Pengarahan
Pada umumnya, pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud agar mereka bersedia bekerja dengan sebaik mungkin, dan diharapkan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip di muka. Adapun cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa orientasi.[3] Cara ini merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu agar supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik. Biasanya, orientasi ini diberikan kepada pegawai baru dengan tujuan untuk mengadakan pengenalan dan memberikan pengertian atas berbagai masalah yang dihadapinya. Pegawai lama yang pernah menjalani masa orientasi tidak selalu ingat atau paham tentang masalah-masalah yang pernah dihadapinya. Suatu ketika mereka bisa lupa, lalai, atau sebab-sebab lain yang membuat mereka kurang mengerti lagi.
Pengarahan dapat diartikan sebagai tindakan pemimpin dakwah yang dapat menjamin terlaksananya tugas-tugas dakwah sesuai dengan rencana dan ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan. Pembimbingan yang dilakukan oleh pemimpin terhadap pelaksana dilakukan dengan jalan memberikan perintah atau petunjuk atau usaha-usaha lain yang bersifat mempengaruhi dan menetapkan arah tindakan mereka.
Adapun komponen pengarahan dakwah adalah nasihat untuk membantu para da’i untuk melaksanakan peranannya serta mengatasi permasalahan dalam menjalankan tugasnya adalah:
  • Memberikan perhatian pada setiap perkembangan para anggotanya.
  • Memberikan nasihat yang berkaitan dengan tugas dakwah yang bersifat membantu.
  • Memberikan sebuah dorongan
  • Memberikan bantuan atau bimbingan kepada semua elemen dakwah.[4]
D.      Tujuan Pengarahan di Dalam Dakwah
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberi pengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
Secara umum tujuan suatu pengarahan yang ingin dicapai pada setiap organisasi / kelompok didalam adalah sebagai berikut:
  1. Menjamin Kontinuitas Perencanaan. Suatu perencanaan ditetapkan untuk dijadikan pedoman normatif dalam pencapaian tujuan. Pelaksanaan kerja yang baik akan sesuai dengan rencana dan tujuan yang ditentukan sebelumnya. Adanya suatu pengarahan dilakukan untuk menjamin kelangsungan perencanaan. Artinya, perencanaan yang yelah ditetapkan meskipun memiliki sifat fleksibel namun prinsip yang terkandung didalamnya harus tetap dijamin kontitunitasnya.
  2. Membudayakan prosedur standar. Melalui pengarahan diharapkan bahwa prosedur kerja yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan. Apabila sudah menjadi kebiasaan diharapkan dapat membudaya dilingkungan sistem itu sendiri.
  3. Membina disiplin kerja. Tujuan lain perlunya pengarahan adalah agar terbiasa disiplin kerja dilingkungan organisasi. Disiplin dapat diartikan sebagai suatu sikap mental yang menyatu dalam kehidupan yang menyatu dalam kehidupan yang mengandung pemahaman terhadap norma, nilai, dan peraturan alam dalam melakanakan hak dan kewajibanya.
  4. Membina motivasi yang terarah. Penerapan fungsi pngarahan juga memiliki tujuan untuk membina motivasi para anggota yang terarah. Maksudnya adalah agar para anggota dapat melakanakan pekarjaan sambil dibimbing  dan diarahkan untuk menghindari kesalahan prosedur yang dikhawatirkan berdampak pada terealisasinya suatu program / kegiatan.
Proses pengarahan (Actuating) berkaitan erat dengan sebuah langkah yang harus ditempuh / diakukan secara  bersama. Oleh karena itu dalam mengarahkan sebuah dakwah seorang da’i tentu harus mempertimbangkan mana langkah yang baik dan mana langkah yang tidak baik, hal ini selain untuk pertimbangan tercapainya tujuan bersama secara efektif juga sebagai perwujudan taqwa kepada Allah SWT, sebagaimana Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104 yang artinya:
ولتكن منكم يد عون الى الخير ويأمرون بألمعروف وينهون عن المنكر وأولٳك هم ٱلمفلحون ۝

“ dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)
Kaitannya dengan actuating surat Ali Imron ayat 104 mengandung isu-isu manajemen dakwah. Pertama adalah kata ummatun, kata ummah merujuk pada teamwork atau kelompok yang terorganisir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari manajemen. Kedua adalah kata yad’uu yang berarti mengajak, dalam hal ini adalah mengajak pada sebuah tujuan yang akan dicapai bersama. Ketiga adalah kata ya’muruuna, memberikan dan menjelaskan perintah untuk melaksanakan tujuan-tujuan organisasi yang telah dituangkan dalam sebuah perencanaan. Ketiga adalah kata yanhauna, selain memberikan perintah actuating juga mencakup pada koreksi atau memberikan rambu-rambu mengenai hal-hal yang harus dicegah sebagaimana dalam kata yanhauna.
Perlu ditekankan lagi bahwa permasalahan pengarahan (Actuating) berkaitan erat dengan sesama manusia, hal inilah yang membuat unsur ini menjadi unsur yang paling kompleks dan paling sulit diterapkan dalam sebuah proses manajemen. Penggerakan manusia merupakan hal yang sulit, mengingat setiap manusia tentu memiliki perasaan, fikiran, harga diri, serta tujuan hidup yang berbeda.

E.       Peran Komunikasi Dalam Pengarahan
Dalam menerapkan proses pengarahan perlu adanya motivasi serta komunikasi yang baik oleh leader  dakwah. Sama halnya dengan langkah setiap orang dalam kehidupannya, pengarahan pun dioperasikan memiliki tujuan tertentu.
Komunikasi dalam bahasa Inggris Communication berawal dari bahasa latin Communication yang berarti “sama makna”. Secara sederhana Komunikasi dapat didefiniksikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan akhibat tertentu. Kegiatan komunkasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana.
Komunikasi merupakan hal yang urgen dalam sebuah pengarahan pada sebuah proses manajemen, kesalahan sedikit saja yang timbul dari kesalahan komunikasi atau karena komunikasi yang kurang sempurna tentu akan berdampak pada efektivitas program kerja yangah dirancang sebelumnya, mengingat dalam pengarahan berhadapan langsung dengan manusia dimana komunikasi yang baik dibutuhkan untuk menyambung sebuah pemahaman terhadap job deskripsi setiap indiviu.
 Secara sederhana, dapat ditegaskan bahwa objek kajian komunikasi dakwah adalah peran dan fungsi komunikasi yang terlibat dalam proses dakwah. Hal ini dapat dijelaskan berangkat dari objek material komunikasi dakwah adalah manusia sebagai sasaran dakwah. Sedangkan objek formalnya adalah segala proses komunikasi dapat berperan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Dengan memahami komunikasi dakwah, maka kita dapat menentukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap tantangan dalam proses berdakwah, mengetahui dampak negatif, dan menghindarinya.
Howarld D Lasswel mengemukakan tiga alasan dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia berkomunikasi: Pertama, hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya, Kedua komunikasi merupakan upaya manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan Ketiga merupakan upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.

F.       Pemberian Perintah
Perintah merupakan permintaan dari seorang da’i kepada orang-orang yang berada dibawahnya untuk melakukan atau mengulang suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu. Jadi, perintah itu berasal dari atasan, dan ditujukan kepada para bawahan atau dapat dikatakan bahwa arus perintah ini mengalir dari atas ke bawah. Perintah tidak dapat diberikan kepada orang lain yang memiliki kedudukan sejajar atau orang lain yang berada di bagian lain. Adapun perintah yang dapat berupa :
Perintah diberikan dalam bentuk lisan, bilamana:
  1. Tugas yang diberikan itu sederhana
  2. Dalam keadaan darurat
  3. Perintah itu dapat selesai dalam waktu singkat
  4. Orang-orang yang diperintah sudah pernah mengerjakan hal itu
  5. Bilamana dalam melaksanakan pekerjaan itu terjadi kekeliruan, tidak akan membawa akibat yang besar.
  6. Untuk menjelaskan perintah tertulis.
Perintah secara tertulis, biasanya di berikan bilamana :
  1. Pekerjaan yang di perintahkan sulit dan memerlukan keterangan detail.
  2. Pihak penerima perintah berada di tempat lain.
  3. Pihak penerima perintah sering lupa.
  4. Perintah itu ditujukan kepada banyak orang.
  5. Kesalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan perintah itu akan mendatangkan akibat yang besar.
Dalam pemberian perintah baik lisan maupun tulisan  yang harus diperhatikan, harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
  1. Perintah harus jelas
  2. Perintah itu mungkin dan dapat dikerjakan
  3. Perintah hendaknya diberikan satu persatu.
  4. Perintah harus di berikan kepada orang yang tepat.
  5. Perintah harus diberikan oleh satu tangan.[5]
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pencapaian tujuan pengarahan didalam berdakwah sering kali tidak dapat dilakukan dengan mudah. Berbagai kendala dapat dihadapi da’I dalam perjalanannya mencapai tujuan. Gejolak kemaksiatan, aktivitas pesaing semakin agresif dan berbagai kesulitan yang menghadang sering kali membuat tujuan yang hendak dicapai perusahaan menjadi tidak mudah.
Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi-situasi tersebut di atas, seorang da’i membutuhkan beberapa fungsi, salah satunya adalah fungsi Actuating. Sehingga diharapkan dengan berjalannya fungsi actuating ini, kelancaran dalam pengarahan dan perintah untuk mengoperasional manajemen dakwah dapat berlangsung dengan baik.
B.       Saran
Demikianlah makalah yang kami buat, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah kami bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.



                                





DAFTAR PUSTAKA

Munir, M dan Wahyu Ilahi 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta : Prenada Media.
Shaleh, Abd. Rosyad. 1986.Manajemen Dakwah.  Jakarta : PT Bulan Bintang.
Khatib Pahlawan kayo. 2007.Manajemen Dakwah dari Dakwah Konvensional menuju Dakwah professional. Cet. 1.Jakarta: Amzah.
Shaleh, Rosyad. 1977.Manajemen Dakwah Islam. Jakarta : Bulan Bintang.



[2] Khatib Pahlawan kayo, Manajemen Dakwah dari Dakwah Konvensional menuju Dakwah professional, (Jakarta: Amzah, Cet. 1, 2007), hlm 17
[3] Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 21

[4] M. Munir dan Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, ( Jakarta: Prenada Media. 2006) Hal.152
[5] Abd. Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah, ( Jakarta: PT Bulan Bintang. 1986)  Hal 112