Mencari kehalalan dalam Berbuat

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 29 Desember 2014

ukuran kebenaran



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
            Pendidikan pada umumnya dan ilmu pengetahuan pada khususnya mengemban tugas utama untuk menemukan, pengembangan, menjelaskan, menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Semua orang yang berhasrat untuk mencintai kebenaran, bertindak sesuai dengan kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
            Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek pikir manusia sudah lama menjadi penyelidikan manusia. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu?
            Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spikologis. Menurut para ahli filsafat itu bertingkat-tingkat bahkan tingkat-tingkat tersebut bersifat hirarkhis. Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain tingkatan kualitasnya ada kebenaran relatif, ada kebenaran mutlak (absolut). Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran illahi, ada kebenaran khusus individual, ada pula kebenaran umum universal




B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Definisi  kebenaran ?
2.      Apa Saja Sifat Kebenaran ?
3.      Bagaimana Kriteria Kebenaran  ?
4.      Apa Jenis Dari Kebenaran ?
5.      Bagaimana Teori Kebenaran ?
6.      Dan bagaimana mengetahui ukuran kebenaran. ?

C.    Tujuan Masalah
1.      Menegetahui Definisi  kebenaran
2.      Memahami Sifat Kebenaran
3.      Menegtahui Kriteria Kebenaran
4.      Untuk Memahami Jenis Kebenaran
5.      Menjelaskan Teori Kebenaran
6.      Untuk mengetahui ukuran kebenaran











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Kebenaran
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:
  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya).
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya).
  3. Kejujuran atau kelurusan hati.
  4. Selalu izin; perkenanan.
            Sedangkan kebenaran pengetahuan dapat diartikan sebagai persesuaian antara pengetahuan dengan objeknya. Yang terpenting untuk diketahui adalah bahwa persesuaian yang dimaksud sebagai kebenaran adalah merupakan pengertian kebenaran yang immanen yakni kebenaran yang tetap tingal didalam jiwa dalam kata lain adalah keyakinan.[1]
            Menurut Endang Saifuddin Anshari dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Agama menulis bahwa agama dapat diibaratkan sebagi suatu gedung besar perpustakaan kebenaran. Di dalam pembicaraan mengenai “kepercayaan” dapat disimpulkan bahwa sumber kebenaran adalah Tuhan. Manusia tidak dapat hidup dengan benar hanya dengan kebenaran-kebnaran pengetahuan, ilmu dan filsafat, tanpa kebenaran agama.
B.     Sifat Kebenaran
            Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta (dalam Surajiyo, 2010) dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai berikut:
Kebenaran yang pertama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya ialah bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui suatu objek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya pengetahuan itu meliputi: pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan agama.
Kebenaran pengetahuan yang kedua berkaitan dengan sifat atau karakteristik dari bagaiman cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah membangunnya dengan penginderaan atau akal pikirnya, atau rasio, intuisi, atau keyakinan.
Kebenaran pengetahuan yang ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantunan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antar subjek dan objek.
C.    Kriteria Kebenaran
            Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Karena itu, kegiatan berpikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu atau kriteria kebenenaran. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama criteria kebenarannya, karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda.[2]
Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan itu adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai disitu saja, problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistimologi (teori tentang hakikat dan ruang lingkup pengetahuan).Telaah epistimologi terhadap kebenaran, membawa orang kepada suatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistimologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantic.Kebenaran epistimologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia.Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Kebenaran dalam arti semantic adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan  bahasa.
Dalam studi Filsafat Ilmu, pandangan tentang suatu ‘kebenaran’  itu sangat tergantung dari sudut pandang filosofis dan teoritis yang dijadikan pijakannya.   Ada tujuh teori kebenaran yang paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya.

D.    Jenis-Jenis Kebenaran
Ada tiga jenis kebenaran :
1.      Kebenaran epistemologis yaitu “kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia”.
2.      Kebenaran ontologis adalah “kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yangg ada atau diadakan”.
3.      Kebenaran semantic  yakni “kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa”.[3]

E.     Teori Kebenaran
Teori kebenaran menurut filsafat, Yaitu :
1. Teori Corespondence (korespondansi) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.[4]
2. Teori Consistency (koherensi) Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.[5]
3. Teori Pragmatisme Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.[6]
4. Kebenaran Religius Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasio dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal, berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
Kebenaran ilmiah menambahkan satu teori kebenaran yaitu
5. Kebenaran Proposisi Sesuatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi- proposisinya benar dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai denganpersyaratan formal suatu proposisi. Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks.[7]
Descartes merumuskan pedoman penyelidikan supaya orang jangan tersesat dalam usahanya mencapai kebenaran sebagai berikut:
Pertama, janganlah sekali-kali mnerima sebagai kebenaran, jika tidak ternyata kebenarannyadengan terang benderang, hauslah kita membuang segala prasangka dan janganlah campurkan apapun juga yang tak nampak sejeas-jelasnya kepada kita, hinga tak ada dasar sedikitpun juga untuk sanksi.
Kedua, rincilah tiap kesulitan sesempurna-sempurnanya dan carilah jawaban secukupnya.
Ketiga, aturlah pikiran dan pengetahuan kita sedemikian rupa, sehingga kita mulai dari yamng paling rendah dan sederhana, kemudian meningkat dari sedikit, setapak demi setapak untuk mencapai pengetahauan yang lebih sukar dan lebih ruwet.
Keempat, buatlah pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya dan seumum-umumnya hingga menyeluruh, sampai kita tidak khawatir kalau-kalau ada yang kelewatan.[8]


Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia
2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
3. Tingkat filosofis, rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
      Keempat tingkat kebenaran ini berbeda-beda wujud, sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya, disamping potensi subyek yang menyadarinya. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenarna itu. Misalnya pada tingkat kebenaran indera, potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indra.
      Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia selalu mencari kebanran itu, membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.

F.     Ukuran Kebenaran
            Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran.
Untuk menemukan kebenaran ilmiah seseorang harus bisa berpikir secara ilmiah, setidaknya ada 3 tahapan berpikir yang harus dilalui, yaitu.[9]


1.      Skeptik
            Ciri berpikir ilmiah ini ditandai oleh cara orang dalam menerima kebenaran informasi atau pengetahuan tidak lansung diterima begitu saja, namun dia berusaha untuk menanyakan fakta-fakta atau bukti-bukti terhadap setiap pernyataan yang diterimanya.
2.      Analitik       
            Ciri berpikir ilmiah kedua ditandai oleh cara orang dalam melakukan setiap kegiatan, ia selalu berusaha menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan, dan mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya. Dengan cara ini maka jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi akan dapat diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.
3.      Kritis
Ciri berpikir ilmiah ketiga ditandai dengan orang yang selalu berupaya mengembangkan kemampuan menimbang setiap permasalahan yang dihadapinya secara objektif. Hal ini dilakukan agar semua data dan pola pikir yang diterapkan dapat selalu logis.













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Bahwa kebanaran itu sangat ditentukan oleh potensi subyek kemudian pula tingkatan validitas. Kebanaran ditentukan oleh potensi subyek yang berperanan di dalam penghayatan atas sesuatu itu. Bahwa kebenaran itu adalah perwujudan dari pemahaman (comprehension) subjek tentang sesuatu terutama yang bersumber dari sesuatu yang diluar subyek itu realita, perisitiwa, nilai-nilai (norma dan hukum) yang bersifat umum.
            Bahwa kebenaran itu ada yang relatif terbatas, ada pula yang umum. Bahkan ada pula yang mutlak, abadi dan universal. Wujud kebenaran itu ada yang berupa penghayatan lahiriah, jasmaniah, indera, ada yang berupa ide-ide yang merupakan pemahaman potensi subjek (mental, rasio, intelektual). Bahwa substansi kebenaran adalah di dalam intaraksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud kebenaran ditentukan oleh potensi subjek yang menjangkaunya. Semua teori kebanaran itu ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia.

B.     Saran
            Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dari segi metode maupun content (isi). Kritik dan saran berupa kontribusi pemikiran yang konstruktif sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.





                        

DAFTAR PUSTAKA

Inu Kencana Syafiie, 2004. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2001. Filsafat IlmuYogyakarta: Liberty Yogyakarta cet. 3.
Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. 2005. jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Hardono Hadi, 1997. Epistemologi; Filsafat pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius,.
Surajiyo, 2009. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Cecep Sumarna, 2006. Filsafat Ilmu; Dari Hakikat Menuju Nilai. Bandung : Pustaka Bani Quraisy,).
Noeng Muhadjir, 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin. cet. 2.
M. Solly Lubis, 1994. Filsfat Ilmu dan Penelitian. Bandung: Mandar maju. cet.1.
A. Fuad Ihsan, 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rineka Cipta,





[1] Inu Kencana Syafiie, Pengantar Filsafat (Bandung: PT Refika Aditama, 2004). Hal 16
[2] Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2001), cet. 3. Hal 136
[3] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. (jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2005). Hal 111
[4] Hardono Hadi, Epistemologi; Filsafat pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 1997). Hal 148.
[5] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009). Hal 58
[6] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu; Dari Hakikat Menuju Nilai (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006). Hal 118
[7] Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), cet. 2. Hal 13
[8] M. Solly Lubis, Filsfat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar maju, 1994), cet.1. Hal 11
[9] A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), 139-140