Mencari kehalalan dalam Berbuat

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 11 Maret 2014

KISAH NYATA : HIDAYAH SEORANG PELACUR



KISAH NYATA : HIDAYAH SEORANG PELACUR

Ditulis oleh: Gus Ali Alfa Blyt

Suatu hari saya kedatangan seorang wanita cantik dan seksi, Tina namanya.

Tina: Assalaamu’alaik­um!

Saya: Walaikumsalam, monggo pinarak, ada perlu apa yah Mba ?

Tina: Maaf Pak, saya Tina, saya mau minta tolong, tiap malam saya ini “jualan”, bagaimana agar jualan saya laris?
Saya: Maaf Mbak, Sampean salah alamat, saya ini bukan paranormal.

Dengan berbagai cara saya lakukan biar Tina cepat pulang, tapi tetap kekeh duduk di kursi. Lama-lama saya kasihan juga.
Saya: Begini aja Mbak, kalau Sampean ingin rizki barokah jangan tinggalkan shalat bagaimanapun keadaanmu!

Tina: Maaf Pak, saya ini pelacur, apakah shalat saya diterima Allah?

Saya: Jangan mikir diterima atau tidak, yang penting laksanakan dulu.

Tina: Iya Pak, akan saya laksanakan, tapi saya tidak punya rukuh atau mukena.

Akhirnya istri saya memberi rukuh pada si Tina.
Tiga tahun telah berlalu, datanglah Tina bersama seorang laki-laki sambil menangis berlari memeluk istri saya (untung bukan saya yang dipeluk).

Saya: Monggo pinarak. Ada apa kok nangis begini, Sampean siapanya Tina, Mas?

Laki-laki itu menjawab: Saya Dedi Gus, suami Tina.
Saya: Subhanallaah… Bagaimana ceritanya Mas, kok Sampean bisa nikah sama Tina?

Akhirnya Dedi bercerita. Begini Gus, saya seorang kontraktor. Suatu malam saya booking si Tina, saya bawa Tina ke sebuah hotel. Sampai hotel jam 9 malam. Setelah bercerita-cerit­a, akhirnya saya sama Tina masuklah ke kamar hotel, tanpa basa-basi saya ciumi Tina, saya buka bajunya. Tatkala itulah Tina berbisik di telinga saya, “Maaf Mas, saya belum shalat Isya, saya tak shalat dulu ya Mas.” Akhirnya saya marah sekali. Ngapain kamu shalat? Tetapi dengan lembut si Tina ngomong sama saya, berilah kesempatan 10 menit saja untuk shalat, waktu kita masih banyak, sekiranya tidak cukup, saya beri bonus besok semalam, asal saya diberi kesempatan shalat. Akhirnya, saya izinkan si Tina untuk shalat. Dia membuka tasnya. Ternyata betul tasnya berisi rukuh atau mukena. Lantas Tina ke kamar mandi berwudhu, lantas Tina shalat. Saya lihat Tina shalat, saya dengarkan Tina berdoa sambil menangis, tanpa terasa saya pun ikut menangis. Di saat itulah saya tersadar dan berniat untuk bertaubat. Akhirnya Tina saya antar pulang ke rumahnya. Saat itu juga saya lamar ke orang tuanya untuk saya jadikan istri saya.

Saya: Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin, terus ada apa Sampean kemari?

Dedi: Begini Gus, kami sudah menikah 3 tahun yang lalu, Alhamdulillah sudah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekarang kami mau minta doa restu kepada Gus untuk menunaikan ibadah haji.

Saya: Allaahu Akbar walillaahil hamd!

Tanpa terasa air mataku menitik haru sambil seraya mengangkat tangan: “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa­ qurrota a’yunin waj ‘alnaa lil muttaqiina imaama.”

Kisah nyata ini sudah mendapat persetujuan langsung dari yang bersangkutan. Ternyata hidayah tidak mengenal siapa dia, tempat, dan waktu. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita. Aamiin.