Mencari kehalalan dalam Berbuat

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 25 Maret 2014

laporan bacaan



A.   PENDAHULUAN
Pada bagain ini dipaparkan menganai: (1) identitas buku, (2) latar belakang buku, dan (3) garis besar isi buku. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pengetahuan awal menganai hal-hal menganai buku yang akan dilaporkan. Lebih jelas, berikut akan dipaparkan mengenai hal-hal yang akan dikemuakan.
1.    Identitas Buku
Judul Buku                  : Bahasa Indonesia : Tata Bahasa Baku
Pengarang                   : Hasan Alwi, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, Anton
                                      M. Moeliono
ISBN                           : 979-407-177-3
Penerbit                       : PT Balai Pustaka (Persero)
Tahun Terbit                : 2003
Edisi                            : Ke-3 (Tiga)
Cetakan                       : Ke-6 (Enam)
Tempat Terbit              : Jakarta
Tebal Buku                  : 468 Halaman
     Ukuran Buku               : 24 Cm x 16 cm
     Jenis Tulisan                : Time New Roman
     Ukuran Tulisan                        : 12
     Warna Sampul             : Biru

2.    Latar Belakang Buku
       Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran buku tata bahasa baku di buat, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia yang baik dan benar.
       Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan di fahami secara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.

3.    Garis Besar Isi Buku
            Buku tata bahasa baku bahasa indonesia ini berisikan XI Bab dan diantara Bab mempunya sub-bab yang secara khusus ditujukan kepada orang awam yang terpelajar, yang karena pendidikannya ingin menyerasikan taraf pengetahuannya dibidang masing-masing dengan daya ungkapnya dalam bahasa indonesia yang apik dan terpelihara. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
            Sehingga harus dikemukakan  disini bahwa buku tata bahasa ini tidak dimaksudkan menjadi buku pelajaran disekolah saja. Melainkan berupa ramuan yang ditujukan kepada masyarakat untuk bisa menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Untuk tujuan pengajaran perlu dijabarkan secara khusus diantara bab-bab yang terdapat didalam buku bahasa indonesia, tata bahasa baku yang dikarang oleh Hasan Alwi Dkk.
Secara umum buku Hasan Alwi ini berisi bab-bab yang penting, selain itu buku bahasa indonesia ini menjelaskan secara lengkap yang terdapat didalam bab-babnya.




                   
B.     PEMBAHASAN
laporan Bagian Buku
Pada bagian ini disampaikan intisari buku yang ditulis Hasan Alwi (2003) dengan judul “bahasa indonesia: tata bahasa baku”. Hal-hal yang disampaikan disesuaikan dengan bab dan subbab yang ada dalam buku. Lebih jelas, berikut akan dipaparkan mengenai beberapa hal tersebut.
Bab I Pendahuluan
a.       Kedudukan Bahasa Indonesia
            Bahasa indonesia adalah bahasa yang terpenting di kawasan Republik kita. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga sumpah pemuda 1928 yang berbunyi “kami poetera dan poeteri indonesia mendjondjoeng bahasa persatuan , bahasa indonesia” dan pada undang-undang dasar 1945 kita yang didalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “ bahasa negara ialah bahasa indonesia. Namun disamping itu masih ada beberapa alasan lain mengapa bahasa indonesia  menduduki tempat yang terkemuka diantara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu. Penting tidaknya suatu bahasa dapat juga didasari sarana ilmu, seni, sastra, dan pengungkap budaya.

b.      Ragam Bahasa
            Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap pemakai bahasa. Ragam ini, yang dapat disebut langgam atau gaya. Pemilihannya tergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berbicara atau terhadap pembacanya. Selain itu, ragam bahasa memiliki ragam daerah yang disebut dengan nama logat dan dialek.

c.       Ciri situasi diglosia
            Situasi diglosia dapat disaksikan didalam masyarakat bahasa jika dua ragam pokok bahasa, yang masing-masing mungkin memiliki jenis subragam lagi, dipakai secara berdampingan untuk fungsi kemasyarakatan yang berbeda-beda. Didalam situasi diglosia terdapat tradisi yang mengutamakan studi gramatikal tentang ragam yang tinggi. Hal itu dapat dipahami jika diingat bahwa ragam itulah yang diajarkan didalam sistem pembelajaran dan persekolahan. Dan pada dasarnya tradisi penulisan tata bahasa melayu, malaysia dan indonesia membuktikan kecenderungan itu. Dan pada tradisi itulah yang meletakkan dasar bagi usaha pembakuan bahasa.

d.      Pembakuan Bahasa
            Dengan latar kerangka acuan kediglosian yang diuraikan diatas, masalah pembakuan bahasa indonesia memperoleh dimensi tambahan yang hingga kini tidak sering dipersoalkan, atau yang memang dianggap tidak perlu diperhitungkan bagi keberhasilan usaha pembakuan ini.

e.       Bahasa Baku
            Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa. Itulah ciri ragam bahasa baku.

f.       Fungsi Bahasa Baku
            Bahasa baku mendukung empat fungsi, tiga diantaranya bersifat pelambang atau simbolik, sedangkan yang satu lagi bersifat objektif. Dan adapun empat fungsi tersebut ialah : 1. Fungsi pemersatu, 2. Fungsi pemberi kekhasan, 3. Fungsi pembawa keibawaan, 4. Fungsi sebagai kerangka acuan.

g.      Bahasa Yang Baik Dan Benar
            Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut dengan bahasa yang baik atau tepat. Sedangkan yang dikatakan bahasa yang baku ialah pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku.

h.      Dan Hubungan Bahasa Indonesia Dengan Bahasa Daerah Maupun Bahasa Asing
            Bahasa dapat berkembang karena adanya kontak dengan bahasa dan budaya lain sehingga perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat diikutinya. Satu hal yang harus dijaga ialah bahwa dalam mengembangkan bahasa nasional ini, distu pihak, kita harus bersikap terbuka, tetapi dipihak lain kita juga harus waspada.
Bab II Pengertian Dasar
a.    Pengertian Mengenai Tata Bunyi
     Didalam buku ini terdapat beberapa pengertian dan istilah mengenai tata bunyi yang bersifat umum yang berkenaan dengan (a) fonem, alofon, dan grafem, (b) gugus dan diftong, serta (c) fonotaktik.

b.    Pembentukan Kata
     Karena kata dalam bahasa indonesia dapat dibentuk dari kata lain, ada berbagai pengertian dan istilah yang diperlukan untuk menerangkan proses pembentukan kata yang terdapat didalam bab IV, V, VI, VII, dan VIII.

c.    mengenai kaliamat
     Pada umumya kelimat berwujud rentetan atau gabungan kata yang disusun sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Dan kalimat mempunyai tiga klasifikasi, yaitu (1) kategori sintaksis, (2) fungsi sintaksis, dan (3) peran semantisnya.

d.   pengertian wacana
     wacana adalah rentetan kata yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu.

Bab III Tentang Bunyi Bahasa Dan Tata Bunyi Bahasa
            Getaran udara yang masuk ketelinga dapat berupa bunyi atau suara. Getaran udara yang dinamakan bunyi itu dapat terjadi karena dua benda atau lebih bergeseran atau berbenturan.  Bunyi juga dapat dibuat oleh alat ucap manusia seperti pita suara, lidah, bibir dan gigi. Bunyi bahasa dibuat oleh manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Bunyi bahasa dapat terwujud nyanyian atau dalam tuturan.

Bab IV Verba
            Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. Dan juga kita dapat mengetahui dengan cara mengamati (1) perilaku semantis, (2) perilaku sintaksis, dan (3) bentuk morfologinya. Dan masih banyak penjelasan tentang verba yang sangat perlu dibaca dan dipahami dimulai dari bentuk, turunan maupun majemuk verba yang terdapat didalam buku Hasan Alwi ini.
Bab V Adjektiva
            Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Selain itu adjektiva memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif. Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Selanjutnya adjektiva berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat.serta adjektiva terdiri dari segi semantis, sintaksis dan dari segi bentuknya.

Bab VI Adverbia
            Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Dan didalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Pada umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat, fungsi sebagai predikat ini bukan satu-satunya ciri advebia. Karena adverbia juga dapat menerangkan kata atau bagian kalimat yang tidak berfungsi sebagai predikat. Sama halnya adverbia terdiri dari segi bentuk, sintaksis dan semantis. Serta adverbia mempunyai bagian-bagian, diantaranya : adverbia konjungtif, wacana, gabungan dan adverbia kelas serta kata lain.

Bab VII Nomina, Pronomina, Dan Numeralia
a.       Nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja dan kebangsaan adalah nomina. Nomina dapat dilihat dari segi bentuk, segi semantis dan dari segi sintaksisnya.
b.      Pronomina dilihat dari segi arti ialah kata yang dipakaiuntuk mengacu kepada orang lain. Dan pronomina mempunyai tiga bagian, diantaranya ialah (1) pronomina persona, yang merupakan pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang.(2) pronomina penunjuk, adalah kata yang mengacu pada acuan yang dekat dengan pembicara/penulis, pada masa yang akan datang , atau pada informasi yang akan disampaikan. Pronomina penunjuk dalam bahasa indonesia ada tiga macam, yaitu : pronomina penunjuk umum, tempat dan penunjuk ihwal. dan (3) pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi maknanya, yang ditanyakan itu dapat mengenai orang, barang dan pilihan.
c.       Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Dan numeralia terbagi menjadi dua macam bagian. Yaitu, (1) numeralia pokok yang bermakna bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain. (2) numeralia tingkat, numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- dimuka bilangan yang bersangkutan. Sebagai contoh kesatu/pertama, kedua, kelima dan seterusnya.
Bab VIII Kata Tugas
            Kata tugas hanya mempunyai arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frasa atau kalimat. Ciri lain dari kata tugas adalah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Berdasarkan perannya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok : (1) preposisi, (2) konjungtor, (3) interjeksi, (4) artikula, dan (5) partikel penegas.
Bab IX Kalimat
            Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras, lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainya. Kalimta dalam banyak hal tidak berbeda dari klausa. Baik kalimat maupun klausa merupakan konstuksi sintaksis yang mengandung unsur predikasi. Klausa ialah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, dan sekurang-kurang terdiri atas subjek dan prediket serta yang berpotensi menjadi kalimat. Namun klausa juga merupakan gabungan dua kata, atau lebih yang bersifat predikatif. Maksudnya, diantara kedua kata itu yang berkedudukan sebagai predikat. Hal yang mirip dengan klausa ialah frasa namun bedanya terletak pada sifatnya yang non-predikatif.
Bab X Hubungan Antarklausa
            Sebuah kalimat majemuk, baik setara maupun bertingkat, terdiri atas lebih dari satu klausa yang saling berhubungan. Ada dua macam hubungan antarklausa, yaitu hubungan koordinatif (setara) dan hubungan subordinatif (bertingkat atau setara).
a.       Hubungan antarklausa yang koordiantif
      Hubungan koordinatif menunjukkan hubungan yang setara. Kata penghubung yang dugunakan hanya mengkoordinasi klausa yang setara. Hubungan koordinatif menghasilkan klausa yang sama kedudukannya, tidak menunjukkan heararki karena klausa yang lain.
b.      Hubungan antarklausa yang subordinatif
      Hubungan ini menunjukkan hubungan hierarkis. Kata penghubung yang digunakan menyebabkan klausa yang berada dibawah klausa yang lain karena klausa yang sastu menjadi bagian  dari klausa yang lain.

Bab XI Wacana
            Wacana ialah rentetan kalimat yang berkaitan  yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan. Wacana juga mempunyai konteks yang terdiri atas berbagai unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat,adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Tiga unsur yang terakhir, yaitu bentuk amanat, kode, dan sarana perlu mendapat penjelasan yang berupa surat, esai, iklan, pemberitahuan, pengumuman dan sebagainya, kode adalah ragam bahasa yang dipakai, misalnya bahasa indonesia baku, bahasa indonesia baku, bahasa indonesia logat daerah, atau bahasa daerah. Dan sarana ialah wahana komunikasi yang dapat berwujud pembicaraan bersemuka atau lewat telepon, surat, dan televisi.
Pendapat lain chaer mengatkan bahwa wacana adalah satu bahasa yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan grammatikal tertinggi atau terbesar. Brown dan Yule menyebutkan bahwa wacana adalah bahasa yang digunakan. Menurut kinneavy wacana pada umumnya  adalah teks yang lengkap yang disampaikan secara lisan maupun tulisan yang tersusun oleh kalimat yang berkaitan, tidak harus menampilkan isi yang koheran secara rasional. Wacana dapat diarahkan ke satu tujuan bahasa atau  mengacu jenis kenyataan.




C.    PENUTUP
Pada bagian ini dikemukakan mengenai: (1) Hakikat Dan Kegunaan Bahasa Menurut Penulis, (2) Kedudukan Bahasa Yang Dijelaskan ASNAWI S.Pd M.Pd, (3) Komentar Penulis Tentang Laporan Isi Buku, dan (4) Pandangan Penulis tentang Buku yang Dilaporkan. Serta (5) manfaat dan kritik laporan dari hasil buku yang dilaporkan. Lebih jelas berikut akan dikemukakan hal-hal yang dimaksud.

1.    Hakikat dan Kegunaan Bahasa Menurut Penulis
       Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.
       Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah.

2.        Kedudukan Bahasa Yang Dijelaskan ASNAWI S.Pd M.Pd
a.       Kedudukan bahasa bertaraf nasional, meliputi :
ü  Bahasa indonesia sebagai lambang kebanggaan
ü  Bahasa indonesia sebagai identitas nasional
ü  Bahasa indonesia sebagai pemersatu antar suku dan ras
ü  Bahasa indonesia sebagai penghubung antar suku, ras, dan budaya atau anatar wilayah
b.      kedudukan bahasa dinegara, meliputi :
ü  Bahasa indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan
ü  Bahasa indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan
ü  Bahasa indonesia sebagai pengemabangan IPTEK dan kesenian

3.        Komentar Penulis Tentang Laporan Isi Buku
            Pada bagian ini penulis memaparkan apa yang terdapat didalam buku Hasan Alwi (2003). Buku tata bahasa baku ini terdiri dari XI bab yang didalam subbab terkandung penjelasan-penjelasan yang akurat didalam bab. Selain dari pada itu penulis juga berterimakasih kepada penyusun yang telah menerbitkan buku edisi keenam ini dengan bagus, namun penulis berkomentar apa yang terdapat didalam buku ini bahwasanya penulis menemukan kurang lebih kata yang tidak ada penjelasannya, sehingga pembaca kesulitan memahami kelanjutannya. Akan tetapi buku ini jika dipakai diperguruan tinggi sangat lebih menarik pembahasannya, selain dari pada itu  buku tata bahasa baku ini berkemungkinan wajib dipelajari oleh pelajar maupun masyarakat, supaya pelajar dan masyarakat dapat menggunakan bahasa yang baku, dengan kata lain masyarakat tidak lagi memakai bahasa daerahnya. Seperti halnya buku ini juga membantu kita untuk bisa berbahasa indonesia yang baik dan benar.

4.    Pandangan Penulis tentang Buku yang Dilaporkan
       Berdasarkan yang ditulis penulis didalam laporan bacaan tersebut, Penulis memandang mengenai buku yang ditulis Hasan Alwi (2003) merupakan buku yang dapat digunakan dalam melakukan pemahaman konsep mengenai bagaimana cara mentata bahasa baku, serta bagaiamana melakukan pengaplikasian pengetahuan yang telah dimengerti didalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menjelaskan dan memberikan pengetahuan pengantar bagi pembaca untuk melakukan pemahaman awal menganai berbahasa indonesia yang baku yang baik dan benar.

5.    Manfaat dan Kritikan laporan
       Berdasarkan manfaatnya, buku yang ditulis oleh Hasan Alwi (2003) ini sangat bermanfaat didalam pendidikan maupun bagi orang awam terkhusus kepada masyarakat indonesia yang masih menggunakan bahasa daerah, diantaranya ialah bahasa jawa, batak, melayu, minang, mandarin dan bahasa lainnya. Dengan adanya buku ini masyarakat dapat memabaca dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bahasa indonesia yang baku. Didalam diri manusia pasti tek lepas dari kesalahan, maka dari itu penulis meminta ma’af yang sesungguhnya kepada pembaca jika terdapat kata yang kurang atau kurang dimengerti dan dipahami.

DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku. Jakarta : Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. 1988. Tata Bahasa Praktis. Jakarta : Bhratara.